Ensiklopedia Hadis
Detail Hadis
Teks Arab, terjemahan, dan hikmah pelajaran
ID: 65073 | Sahih
Muttafaq 'alaihi
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَقَدَ ثَابِتَ بْنَ قَيْسٍ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَا أَعْلَمُ لَكَ عِلْمَهُ، فَأَتَاهُ فَوَجَدَهُ جَالِسًا فِي بَيْتِهِ، مُنَكِّسًا رَأْسَهُ، فَقَالَ: مَا شَأْنُكَ؟ فَقَالَ شَرٌّ، كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ، وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَأَتَى الرَّجُلُ فَأَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَالَ كَذَا وَكَذَا، فَرَجَعَ الْمَرَّةَ الْآخِرَةَ بِبِشَارَةٍ عَظِيمَةٍ، فَقَالَ: «اذْهَبْ إِلَيْهِ فَقُلْ لَهُ: إِنَّكَ لَسْتَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، وَلَكِنْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ».
Terjemahan:
Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Suatu saat, Nabi ﷺ mencari-cari Ṡābit bin Qais. Maka seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah! Aku akan memberitahukanmu beritanya." Lantas dia pergi menemuinya dan menemukannya sedang duduk di rumahnya dengan menundukkan kepala. Dia bertanya, "Ada apa denganmu?" Ṡābit menjawab, "Sangat buruk." Yaitu lantaran dia mengangkat suara melebihi suara Nabi ﷺ, sehingga menyangka amalannya telah terhapus dan dia termasuk penghuni neraka. Laki-laki itu segera kembali dan mengabari beliau bahwa dia mengatakan begini dan begini. Kemudian dia pergi menemuinya sekali lagi dengan membawa berita besar; beliau bersabda, "Pergilah! Temui dia. Sampaikan kepadanya: Engkau tidak termasuk penghuni neraka, tetapi Engkau penghuni surga."
Hikmah & Pelajaran
1- Menjelaskan keutamaan Ṡābit bin Qais -raḍiyallāhu 'anhu-, yaitu bahwa dia termasuk penghuni surga.
2- Perhatian Nabi ﷺ kepada para sahabat serta mengecek kehadiran mereka.
3- Kekhawatiran dan rasa takut para sahabat -semoga Allah meridai mereka- dari terhapusnya amalan baik mereka.
4- Kewajiban beradab ketika berbicara kepada Nabi ﷺ di masa hidupnya serta merendahkan suara ketika mendengar hadis beliau setelah beliau meninggal dunia.
2- Perhatian Nabi ﷺ kepada para sahabat serta mengecek kehadiran mereka.
3- Kekhawatiran dan rasa takut para sahabat -semoga Allah meridai mereka- dari terhapusnya amalan baik mereka.
4- Kewajiban beradab ketika berbicara kepada Nabi ﷺ di masa hidupnya serta merendahkan suara ketika mendengar hadis beliau setelah beliau meninggal dunia.