Ensiklopedia Hadis
Detail Hadis
Teks Arab, terjemahan, dan hikmah pelajaran
ID: 5483 | Sahih
Muttafaq 'alaihi
عَنِ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي كُلِّهِ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطَايَايَ، وَعَمْدِي وَجَهْلِي وَهَزْلِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ المُقَدِّمُ وَأَنْتَ المُؤَخِّرُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ».
Terjemahan:
Abu Musa Al-Asy'ariy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasa berdoa dengan doa ini, "Rabbi-gfir lī khaṭī`atī wa jahlī, wa isrāfī fī amrī kullihi, wa mā anta a'lamu bihi minnī. Allāhumma-gfir lī khaṭāyāya, wa 'amdī wa jahlī wa hazlī, wa kullu żālika 'indī. Allāhumma-gfir lī mā qaddamtu wa mā akhkhartu, wa mā asrartu wa mā a'lantu, Antal-muqaddimu wa Antal-mu`akhkhiru, wa Anta alā kulli syai`in qadīr (Ya Tuhanku! Ampuni kesalahanku, kebodohanku, perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku seluruhnya, dan semua yang Engkau lebih mengetahuinya dariku. Ya Allah! Ampunilah kesalahanku dan kesengajaanku, seriusku dan main-mainku; karena semua itu ada padaku. Ya Allah! Ampunilah dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang kurahasiakan dan yang kutampakkan. Engkau Yang mendahulukan dan Engkau yang mengakhirkan; Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu)."
Hikmah & Pelajaran
1- Keutamaan doa ini serta antusias membacanya dalam rangka mengikuti Nabi ﷺ.
2- Larangan berlebihan karena orang yang berlebih-lebihan terancam siksa.
3- Allah Ta'ala lebih tahu tentang manusia daripada dirinya sehingga ia harus menyerahkan urusannya kepada Allah karena ia terkadang salah tetapi ia tidak tahu.
4- Seseorang dapat berdosa pada saat main-main sebagaimana ia berdosa pada saat seriusnya, sehingga ia harus berhati-hati dalam candanya.
5- Ibnu Ḥajar Al-'Asqalāniy berkata, "Aku belum temukan di salah satu jalur hadisnya penjelasan tempat membaca doa ini. Tetapi, disebutkan pada sebagian besar akhir redaksinya: 'Beliau membacanya di salat malam.' Juga disebutkan bahwa beliau membacanya di penghujung salat. Namun, riwayat-riwayatnya memiliki perbedaan; apakah beliau membacanya sebelum salam atau setelahnya? Keduanya ada dalam riwayat."
6- Apakah Nabi ﷺ melakukan dosa sehingga beliau meminta ampun? Sebagian ulama menyebutkan bahwa beliau mengucapkan istigfar sebagai bentuk tawaduk dan untuk merendahkan jiwanya; atau beliau menganggap sikap luput dari kesempurnaan dan meninggalkan yang lebih utama sebagai dosa; atau demi kesalahan yang terjadi karena lupa atau yang terjadi sebelum kenabian. Ulama lain mengatakan: istigfar adalah suatu ibadah yang wajib dilakukan, tidak untuk mendapatkan ampunan, tetapi sebagai ibadah. Ulama yang lain lagi mengatakan: itu adalah pengingat dan pengajaran bagi umatnya agar mereka tidak merasa aman dari dosa lalu meninggalkan istigfar.
2- Larangan berlebihan karena orang yang berlebih-lebihan terancam siksa.
3- Allah Ta'ala lebih tahu tentang manusia daripada dirinya sehingga ia harus menyerahkan urusannya kepada Allah karena ia terkadang salah tetapi ia tidak tahu.
4- Seseorang dapat berdosa pada saat main-main sebagaimana ia berdosa pada saat seriusnya, sehingga ia harus berhati-hati dalam candanya.
5- Ibnu Ḥajar Al-'Asqalāniy berkata, "Aku belum temukan di salah satu jalur hadisnya penjelasan tempat membaca doa ini. Tetapi, disebutkan pada sebagian besar akhir redaksinya: 'Beliau membacanya di salat malam.' Juga disebutkan bahwa beliau membacanya di penghujung salat. Namun, riwayat-riwayatnya memiliki perbedaan; apakah beliau membacanya sebelum salam atau setelahnya? Keduanya ada dalam riwayat."
6- Apakah Nabi ﷺ melakukan dosa sehingga beliau meminta ampun? Sebagian ulama menyebutkan bahwa beliau mengucapkan istigfar sebagai bentuk tawaduk dan untuk merendahkan jiwanya; atau beliau menganggap sikap luput dari kesempurnaan dan meninggalkan yang lebih utama sebagai dosa; atau demi kesalahan yang terjadi karena lupa atau yang terjadi sebelum kenabian. Ulama lain mengatakan: istigfar adalah suatu ibadah yang wajib dilakukan, tidak untuk mendapatkan ampunan, tetapi sebagai ibadah. Ulama yang lain lagi mengatakan: itu adalah pengingat dan pengajaran bagi umatnya agar mereka tidak merasa aman dari dosa lalu meninggalkan istigfar.