Pada bagian sebelumnya, kita telah membahas bagaimana sistem kalender Bali mengalami fragmentasi hingga akhirnya distandarisasi melalui intervensi kolonial dan kesepakatan para tetua Bali. Pada bagian ini, kita akan masuk ke fase modern, di mana terjadi berbagai perubahan sistem yang cukup kompleks.
Reformasi Kalender Bali (1935–1940)
Pada periode 1935 hingga 1940, diterbitkan Kalender Bali dengan menggunakan sistem:
Penampih Sasih Karo dan Kawulu
Tujuan utama dari sistem ini adalah:
- Menjaga ketepatan jatuhnya Purnama Kapat (Kartika)
- Menyesuaikan Purnama Kadasa (Waisaka)
- Sinkronisasi antara kalender lunar dan musim
Selain itu, digunakan juga sistem:
- Pangalantaka: Eka Sungsang ka Kliwon
Sistem ini menjadi dasar awal modernisasi kalender Bali agar lebih terstruktur dan seragam.
Inovasi Tahun 1950-an: Pangerepating Sasih
Memasuki tahun 1950-an, muncul gagasan baru dari tokoh Bali:
- I Bambang Gde Rawi dan rekan-rekannya
Mereka memperkenalkan sistem:
Pangerepating Sasih
Ciri utama sistem ini:
- Menggunakan konsep Mala Jhista atau Mala Sadha pada tahun panjang
-
Sistem Pangalantaka berubah menjadi:
- Eka Sungsang ka Pon
Dampak Pentingnya
Sistem ini kemudian dijadikan dasar oleh:
- Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI)
Untuk menetapkan hari-hari suci umat Hindu, termasuk:
Hari Raya Nyepi
Sejak tahun 1960-an:
- Nyepi mulai dirayakan secara serentak di Bali
-
Ditentukan berdasarkan:
- Tilem Kasanga (bulan mati ke-9)
- Biasanya jatuh sekitar bulan Maret
Hal ini berkaitan dengan fenomena:
-
Bajeging Surya
(posisi matahari tepat di atas garis khatulistiwa, sekitar 21 Maret)
Keunggulan sistem ini:
- Tidak ada “penampih” (penambahan bulan) pada sasih utama
- Perhitungan hari baik (padewasaan) menjadi lebih stabil dan konsisten
Perubahan Besar Tahun 1990–1993: Sistem Nirayana
Pada tahun 1990-an, dilakukan kajian ulang terhadap sistem kalender Bali oleh tim yang diketuai:
- I Ketut Kebek Sukarsa
Hasilnya adalah perubahan besar menjadi:
Sistem Kalender Nirayana
Dengan konsep:
- Nampih Sasih Berkeseimbangan
-
Menggunakan 6 jenis sasih penampih:
- Jhista
- Sadha
- Kaesa
- Karo
- Katiga
- Kadasa
Dampak dan Kontroversi
Perubahan ini menimbulkan beberapa konsekuensi:
-
Perubahan waktu Nyepi
- Tilem Kasanga bisa jatuh pada Maret–April
- Tidak lagi selalu bertepatan dengan Bajeging Surya
-
Kebingungan dalam padewasaan
- Sasih utama bisa mengalami penampih
- Menyulitkan penentuan hari baik
-
Anomali perhitungan
- Tilem Kasanga bisa “bergeser” ke Tilem Kadasa
Dinamika Keputusan PHDI
Perjalanan sistem kalender ini juga dipengaruhi oleh berbagai keputusan resmi:
Tahun 1991
-
Mahasabha PHDI IV menetapkan:
- Penggunaan sistem Nirayana
- Dengan aturan (uger-uger) penentuan Nampih Sasih
Contoh aturan:
- Jika Tilem Kapitu jatuh pada tanggal tertentu (Januari–Februari)
- Maka akan ditentukan jenis Nampih Sasih yang digunakan
Tahun 1998
-
Paruman Sulinggih di Besakih memutuskan:
- Sistem Eka Sungsang ka Paing
Tahun 2001
- Dilakukan evaluasi ulang
- Sistem Nirayana dianggap menimbulkan banyak kendala
Tahun 2003
-
Diputuskan kembali menggunakan sistem sebelumnya:
- Pangerepating Sasih
- Dengan Mala Jhista atau Mala Sadha
Kalender Bali di Era Modern
Perubahan demi perubahan dalam sistem kalender Bali menunjukkan bahwa:
Kalender Bali bukan sistem statis, Melainkan hasil dari:
- Kajian matematis
- Pertimbangan geografis
- Nilai religius dan budaya
Tujuan utamanya tetap sama:
Menciptakan sistem penanggalan yang selaras antara alam, manusia, dan spiritualitas.
Kalender Bali adalah representasi dari kompleksitas peradaban Bali itu sendiri. Ia bukan sekadar alat hitung waktu, tetapi juga:
- Pedoman spiritual
- Dasar aktivitas sosial
- Penentu harmoni kehidupan
Dari pengaruh India, Jawa, hingga modernisasi oleh lembaga keagamaan, kalender Bali terus berkembang untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan kebutuhan zaman.