Pada bagian sebelumnya, kita telah membahas asal-usul Kalender Bali yang dipengaruhi oleh sistem Kalender Saka dari India serta integrasinya dengan sistem Jawa pada masa Majapahit. Pada bagian ini, kita akan melihat bagaimana kalender Bali mengalami fragmentasi hingga akhirnya distandarisasi.

Perpecahan Sistem Kalender di Bali

Memasuki abad ke-17, setelah runtuhnya pengaruh Majapahit, Bali tidak lagi berada dalam satu kekuasaan terpusat. Pulau ini terpecah menjadi sembilan kerajaan kecil, yang masing-masing memiliki otoritas sendiri, termasuk dalam menentukan sistem penanggalan.

Akibatnya:

  • Muncul beragam versi kalender Bali
  • Perbedaan penentuan hari baik (dewasa ayu)
  • Ketidaksamaan waktu pelaksanaan upacara keagamaan

Kondisi ini menimbulkan kebingungan, terutama dalam konteks kegiatan sosial dan keagamaan yang melibatkan banyak wilayah.

Intervensi Belanda dan Standarisasi Kalender

Pada awal abad ke-20, saat kolonial Belanda menguasai Bali, muncul kebutuhan untuk menyatukan sistem kalender yang berbeda-beda tersebut.

Tujuan utama standarisasi ini antara lain:

  • Mendukung administrasi kolonial
  • Menyusun jadwal upacara adat secara seragam
  • Mengembangkan pariwisata Bali

Sekitar tahun 1930-an, dilakukan berbagai pertemuan antara:

  • Ahli dari pihak Belanda
  • Para tetua dan pemuka agama Bali

Hasil dari pertemuan ini melahirkan rekonstruksi sistem kalender yang lebih seragam.

Lahirnya Sistem Penampih Sasih

Salah satu hasil penting dari rekonstruksi tersebut adalah diperkenalkannya sistem:

Penampih Sasih Karo dan Kawulu

Tujuan utama sistem ini adalah:

  • Menyesuaikan jatuhnya Purnama Kapat (Kartika)
  • Menyesuaikan Purnama Kadasa (Waisaka)
  • Menjaga agar perayaan penting tetap sesuai dengan musim yang tepat

Hal ini sangat penting karena:

  • Banyak upacara Bali berkaitan dengan siklus alam
  • Ketidaktepatan waktu bisa berdampak pada aspek religius dan agraris

Konsep Waktu dalam Kehidupan Masyarakat Bali

Berbeda dengan konsep waktu modern yang bersifat linear, masyarakat Bali memandang waktu sebagai sesuatu yang:

  • Misterius
  • Sakral
  • Siklik (berulang)

Salah satu konsep penting adalah:

Ala Ayuning Dewasa

Konsep ini merupakan sistem penentuan:

  • Hari baik
  • Hari buruk
  • Waktu tepat untuk melakukan aktivitas

Sistem ini dikenal dengan istilah wariga.

Dalam praktiknya:

  • Hampir semua aktivitas penting ditentukan berdasarkan wariga
  • Mulai dari upacara keagamaan, pertanian, hingga kegiatan sehari-hari

Wariga dan Lontar Kuno

Ilmu wariga diwariskan melalui berbagai naskah lontar, di antaranya:

  • Lontar Sundari Gading
  • Lontar Sundari Cemeng
  • Lontar Pangalantaka
  • Lontar Pengalihan Purnama Tilem
  • Lontar Perhitungan Nampi Sasih

Bukti sejarah menunjukkan bahwa sejak abad ke-10, konsep penanggalan sudah dikenal, meskipun istilah wewaran belum digunakan secara eksplisit.

Pada masa pemerintahan:

  • Ratu Gunapriyadharmapatni (Mahendradatta)
  • Dharma Udayana Warmadewa (989–1001 M)

Sistem penanggalan sudah menggunakan:

  • Penanggal (hari naik bulan)
  • Panglong (hari turun bulan)
  • Bahasa Sanskerta dan Bali Kuno dalam prasasti

Istilah wewaran sendiri baru muncul dalam prasasti berbahasa Jawa Kuno pada periode selanjutnya, dan sejak saat itu wariga diajarkan secara turun-temurun oleh para pandita.