Ensiklopedia Hadis
Detail Hadis
Teks Arab, terjemahan, dan hikmah pelajaran
ID: 8378 | Sahih
رواه أبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه
عَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبِرَةَ رَضيَ اللهُ عنه قَالَ: كُنْتُ وَافِدَ بَنِي الْمُنْتَفِقِ -أَوْ فِي وَفْدِ بَنِي الْمُنْتَفِقِ- إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ نُصَادِفْهُ فِي مَنْزِلِهِ، وَصَادَفْنَا عَائِشَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، قَالَ: فَأَمَرَتْ لَنَا بِخَزِيرَةٍ، فَصُنِعَتْ لَنَا، قَالَ: وَأُتِينَا بِقِنَاعٍ -وَالْقِنَاعُ: الطَّبَقُ فِيهِ تَمْرٌ- ثُمَّ جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «هَلْ أَصَبْتُمْ شَيْئًا؟ أَوْ أُمِرَ لَكُمْ بِشَيْءٍ؟» قَالَ: قُلْنَا: نَعَمْ، يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: فَبَيْنَا نَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسٌ، إِذْ دَفَعَ الرَّاعِي غَنَمَهُ إِلَى الْمُرَاحِ، وَمَعَهُ سَخْلَةٌ تَيْعَرُ، فَقَالَ: «مَا وَلَّدْتَ يَا فُلَانُ؟»، قَالَ: بَهْمَةً، قَالَ: «فَاذْبَحْ لَنَا مَكَانَهَا شَاةً»، ثُمَّ قَالَ: «لَا تَحْسِبَنَّ» وَلَمْ يَقُلْ: لَا تَحْسَبَنَّ «أَنَّا مِنْ أَجْلِكَ ذَبَحْنَاهَا، لَنَا غَنَمٌ مِائَةٌ لَا نُرِيدُ أَنْ تَزِيدَ، فَإِذَا وَلَّدَ الرَّاعِي بَهْمَةً، ذَبَحْنَا مَكَانَهَا شَاةً» قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي امْرَأَةً وَإِنَّ فِي لِسَانِهَا شَيْئًا -يَعْنِي الْبَذَاءَ- قَالَ: «فَطَلِّقْهَا إِذن»، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لَهَا صُحْبَةً، وَلِي مِنْهَا وَلَدٌ، قَالَ: «فَمُرْهَا» يَقُولُ: عِظْهَا، «فَإِنْ يَكُ فِيهَا خَيْرٌ فَسَتَفْعَلْ، وَلَا تَضْرِبْ ظَعِينَتَكَ كَضَرْبِكَ أُمَيَّتَكَ» فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي عَنِ الْوُضُوءِ، قَالَ: «أَسْبِغِ الْوُضُوءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا».
Terjemahan:
Laqīṭ bin Ṣabirah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Aku pernah menjadi utusan Bani al-Muntafiq -atau bersama utusan Bani al-Muntafiq- menemui Rasulullah ﷺ. Saat datang untuk menemui Rasulullah ﷺ, kami tidak berjumpa dengan beliau di rumahnya. Tetapi kami hanya bertemu dengan Ummul Mukminin Aisyah. Lantas Aisyah meminta agar dibuatkan bubur untuk kami, dan bubur itu pun dibuat. Selanjutnya kami disuguhi al-qinā' -yaitu nampan yang berisi kurma-. Kemudian Rasulullah ﷺ datang dan bertanya, "Apakah kalian sudah menyantap sesuatu? -atau, apakah sudah diminta agar kalian dibuatkan sesuatu?- Kami menjawab, "Sudah, wahai Rasulullah." Saat kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, tiba-tiba penggembala menggiring kambing beliau ke kandang sambil membawa seekor anak kambing yang mengembik. Beliau bertanya, "Hai polan, apa yang kamu dapatkan?" Dia menjawab, "Anak kambing betina." Beliau bersabda, "Sembelihkan untuk kami satu ekor sebagai gantinya." Selanjutnya beliau bersabda, "Jangan kira (baca: lā taḥsibann) -beliau tidak mengatakan: lā taḥsabann (dengan memfathahkan sīn)- bahwa kami menyembelih kambing ini karena kamu. Kami memiliki seratus ekor kambing dan kami tidak ingin (jumlahnya) lebih. Sebab itu, ketika penggembala mendapat anak kambing betina, maka kami akan menyembelih satu ekor sebagai gantinya." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, aku memiliki seorang istri yang buruk tutur katanya." Beliau bersabda, "Ceraikan dia!" Aku katakan, "Wahai Rasulullah, dia sudah lama hidup bersamaku serta aku telah memperoleh anak darinya." Beliau bersabda, "Perintahkanlah ia -maksudnya: nasihati-. Jika dalam dirinya ada kebaikan, niscaya ia akan melaksanakannya. Janganlah engkau memukul istrimu seperti memukul budak perempuanmu!" Aku katakan, "Wahai Rasulullah, ajari aku cara berwudu!" Beliau bersabda, "Sempurnakanlah wudu dan sela-selalah antara jari-jemari, serta tariklah air dengan kuat saat istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung) kecuali jika engkau sedang puasa!"
Hikmah & Pelajaran
1- Perintah memuliakan tamu.
2- Isbāg (menyempurnakan wudu) terbagi menjadi dua:
1) Isbāg wajib; yaitu penyempurnaan yang tidak akan sah suatu wudu kecuali dengannya. Maksudnya di sini adalah membasuh anggota wudu dan meratakannya.
2) Isbāg sunah; yaitu penyempurnaan yang suatu wudu masih dapat sah tanpanya. Maksudnya di sini adalah basuhan kedua dan ketiga, lebih dari basuhan yang wajib. Ini hukumnya dianjurkan.
3- Anjuran menyela jari-jemari tangan dan kaki saat membasuhnya. Menyela jari tangan dan kaki dapat membantu air sampai ke bagian antara dua jari.
4- Aṭ-Ṭībiy berkata, "Nabi ﷺmenjawab dengan menyebutkan sebagian sunah wudu karena penanya telah tahu penyempurnaan wudu yang wajib."
5- Di antara keindahan perangai Nabi ﷺ ialah perhatian beliau kepada perasaan orang lain serta kejiwaan mereka.
6- Hadis ini menjadi dalil wajibnya kumur-kumur dalam wudu.
7- Hadis ini juga menjadi dalil anjuran menarik air dengan kuat saat istinsyaq, kecuali bagi orang yang sedang berpuasa, hukumnya tidak sunah supaya tidak menyebabkan air masuk melalui hidung ke tenggorokan lalu menyebabkan puasa batal.
8- Di dalamnya terdapat dalil bahwa hijrah tidak wajib bagi setiap orang yang masuk Islam karena Bani al-Muntafiq dan lainnya tidak melakukan hijrah, melainkan hanya mengirim utusan. Hukum ini berlaku jika berada di tempat yang memungkinkan untuk menampakkan syiar agama.
2- Isbāg (menyempurnakan wudu) terbagi menjadi dua:
1) Isbāg wajib; yaitu penyempurnaan yang tidak akan sah suatu wudu kecuali dengannya. Maksudnya di sini adalah membasuh anggota wudu dan meratakannya.
2) Isbāg sunah; yaitu penyempurnaan yang suatu wudu masih dapat sah tanpanya. Maksudnya di sini adalah basuhan kedua dan ketiga, lebih dari basuhan yang wajib. Ini hukumnya dianjurkan.
3- Anjuran menyela jari-jemari tangan dan kaki saat membasuhnya. Menyela jari tangan dan kaki dapat membantu air sampai ke bagian antara dua jari.
4- Aṭ-Ṭībiy berkata, "Nabi ﷺmenjawab dengan menyebutkan sebagian sunah wudu karena penanya telah tahu penyempurnaan wudu yang wajib."
5- Di antara keindahan perangai Nabi ﷺ ialah perhatian beliau kepada perasaan orang lain serta kejiwaan mereka.
6- Hadis ini menjadi dalil wajibnya kumur-kumur dalam wudu.
7- Hadis ini juga menjadi dalil anjuran menarik air dengan kuat saat istinsyaq, kecuali bagi orang yang sedang berpuasa, hukumnya tidak sunah supaya tidak menyebabkan air masuk melalui hidung ke tenggorokan lalu menyebabkan puasa batal.
8- Di dalamnya terdapat dalil bahwa hijrah tidak wajib bagi setiap orang yang masuk Islam karena Bani al-Muntafiq dan lainnya tidak melakukan hijrah, melainkan hanya mengirim utusan. Hukum ini berlaku jika berada di tempat yang memungkinkan untuk menampakkan syiar agama.