Ensiklopedia Hadis
Detail Hadis
Teks Arab, terjemahan, dan hikmah pelajaran
ID: 5490 | Hasan
رواه أبو داود والترمذي والنسائي في الكبرى وابن ماجه
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِذَا أَصْبَحَ: «اللهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ» وَإِذَا أَمْسَى قَالَ: «بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُورُ» قَالَ: وَمَرَّةً أُخْرَى: «وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ».
Terjemahan:
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ: Beliau biasa ketika memasuki waktu pagi membaca, "Allāhumma bika aṣbaḥnā, wa bika amsainā, wa bika naḥyā, wa bika namūtu, wa ilaikan-nusyūr." (Ya Allah! Dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki pagi hari, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki sore hari, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami hidup, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami mati, dan hanya kepada-Mu kebangkitan semua makhluk). Sementara ketika memasuki waktu sore beliau membaca, "... bika amsainā, wa bika aṣbaḥnā, wa bika naḥyā, wa bika namūtu, wa ilaikan-nusyūr (dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki sore hari, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami memasuki pagi hari, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami hidup, dengan pertolongan dan rahmat-Mu kami mati, dan hanya kepada-Mu kebangkitan semua makhluk)." Perawi menambahkan: Di waktu yang lain, beliau membaca, "Wa ilaikal-maṣīr (dan hanya kepada-Mu semua makhluk kembali)."
Hikmah & Pelajaran
1- Anjuran merutinkan doa ini ketika pagi dan sore hari sebagai wujud meneladan Nabi ﷺ.
2- Kebergantungan hamba kepada Tuhannya di semua keadaan dan waktunya.
3- Waktu yang paling utama untuk membaca zikir di waktu pagi adalah sejak terbit fajar hingga terbit matahari di awal siang, dan di waktu sore adalah setelah Asar hingga menjelang magrib. Apabila ia membacanya setelah itu, yaitu membacanya di pagi hari setelah waktu duha tinggi, masih bisa. Bila dibaca setelah Zuhur pun masih sah. Demikian juga bila dibaca setelah Magrib, masih bisa. Itu semuanya adalah waktu berzikir.
4- Korelasi pernyataan "hanya kepada-Mu kebangkitan" dengan waktu pagi adalah bahwa hal itu mengingatkannya pada penghidupan kembali dan kebangkitan akbar saat manusia mati lalu dibangkitkan di hari Kiamat. Ini adalah kebangkitan baru dan hari baru, waktu roh dikembalikan dan manusia bangkit kembali. Pagi baru yang diciptakan oleh Allah kembali terbit untuk menjadi saksi terhadap manusia; waktu dan detik-detiknya menjadi tempat menyimpan amal perbuatan kita.
5- Korelasi pernyataan "hanya kepada-Mu tempat kembali" dengan sore hari adalah saat manusia pulang dari pekerjaan dan kesibukan mereka dalam rangka mengusahakan kemaslahatan dan kehidupan mereka, mereka pulang ke rumah dan beristirahat setelah bertebaran, maka ia ingat bahwa ia akan kembali kepada Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- sebagai tempat kembali dan tempat berpulang.
2- Kebergantungan hamba kepada Tuhannya di semua keadaan dan waktunya.
3- Waktu yang paling utama untuk membaca zikir di waktu pagi adalah sejak terbit fajar hingga terbit matahari di awal siang, dan di waktu sore adalah setelah Asar hingga menjelang magrib. Apabila ia membacanya setelah itu, yaitu membacanya di pagi hari setelah waktu duha tinggi, masih bisa. Bila dibaca setelah Zuhur pun masih sah. Demikian juga bila dibaca setelah Magrib, masih bisa. Itu semuanya adalah waktu berzikir.
4- Korelasi pernyataan "hanya kepada-Mu kebangkitan" dengan waktu pagi adalah bahwa hal itu mengingatkannya pada penghidupan kembali dan kebangkitan akbar saat manusia mati lalu dibangkitkan di hari Kiamat. Ini adalah kebangkitan baru dan hari baru, waktu roh dikembalikan dan manusia bangkit kembali. Pagi baru yang diciptakan oleh Allah kembali terbit untuk menjadi saksi terhadap manusia; waktu dan detik-detiknya menjadi tempat menyimpan amal perbuatan kita.
5- Korelasi pernyataan "hanya kepada-Mu tempat kembali" dengan sore hari adalah saat manusia pulang dari pekerjaan dan kesibukan mereka dalam rangka mengusahakan kemaslahatan dan kehidupan mereka, mereka pulang ke rumah dan beristirahat setelah bertebaran, maka ia ingat bahwa ia akan kembali kepada Allah -Tabāraka wa Ta'ālā- sebagai tempat kembali dan tempat berpulang.