Ensiklopedia Hadis
Detail Hadis
Teks Arab, terjemahan, dan hikmah pelajaran
ID: 4565 | Sahih
HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad
عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ قَالَ: أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّالٍ المُرَادِيَّ، أَسْأَلُهُ عَنِ المَسْحِ عَلَى الخُفَّيْنِ، فَقَالَ: مَا جَاءَ بِكَ يَا زِرُّ؟ فَقُلْتُ: ابْتِغَاءَ العِلْمِ، فَقَالَ: إِنَّ المَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ العِلْمِ؛ رِضًا بِمَا يَطْلُبُ، فَقُلْتُ: إِنَّهُ حَكَّ فِي صَدْرِي المَسْحُ عَلَى الخُفَّيْنِ بَعْدَ الغَائِطِ وَالبَوْلِ، وَكُنْتَ امْرَأً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجِئْتُ أَسْأَلُكَ: هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِي ذَلِكَ شَيْئًا؟ قَالَ: نَعَمْ، كَانَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفْرًا أَوْ مُسَافِرِينَ أَلَّا نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيهِنَّ إِلَّا مِنْ جَنَابَةٍ، لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ، فَقُلْتُ: هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِي الهَوَى شَيْئًا؟ قَالَ: نَعَمْ، كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَبَيْنَا نَحْنُ عِنْدَهُ إِذْ نَادَاهُ أَعْرَابِيٌّ بِصَوْتٍ لَهُ جَهْوَرِيٍّ: يَا مُحَمَّدُ، فَأَجَابَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَحْوٍ مِنْ صَوْتِهِ: «هَاؤُمُ» وَقُلْنَا لَهُ: وَيْحَكَ اغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ، فَإِنَّكَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ نُهِيتَ عَنْ هَذَا، فَقَالَ: وَاللَّهِ لاَ أَغْضُضُ، قَالَ الأَعْرَابِيُّ: المَرْءُ يُحِبُّ القَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ القِيَامَةِ»، فَمَا زَالَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى ذَكَرَ بَابًا مِنْ قِبَلِ المَغْرِبِ مَسِيرَةُ عَرْضِهِ، أَوْ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي عَرْضِهِ أَرْبَعِينَ أَوْ سَبْعِينَ عَامًا.
Terjemahan:
Zir bin Ḥubaisy meriwayatkan: Aku datang menemui Ṣafwān bin 'Assāl Al-Murādiy -raḍiyallāhu 'anhu- untuk menanyakan soal mengusap khuf. Ṣafwān berkata, "Apakah yang menyebabkan engkau datang, wahai Zir?" Aku menjawab, "Ingin mencari ilmu." Ia berkata lagi, "Sesungguhnya para malaikat itu meletakkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena rida dengan apa yang mereka cari." Aku berkata, "Sebenarnya hatiku masih ragu tentang mengusap khuf sehabis buang air besar atau kecil, sementara engkau termasuk salah satu sahabat Nabi ﷺ. Karena itu,
kedatanganku ini adalah untuk menanyakan apakah engkau pernah mendengar beliau ﷺ menerangkan hal itu?" Ṣafwān menjawab, "Iya pernah. Jika kami sedang safar, Rasulullah ﷺ menyuruh kami supaya tidak melepaskan sepatu kami selama tiga hari tiga malam, kecuali jika kami junub, tetapi hanya untuk buang air besar, kencing, dan tidur." Aku berkata lagi, "Apakah engkau pernah mendengar beliau ﷺ menyebutkan sesuatu tentang persoalan cinta?" Dia menjawab, "Ya pernah, yaitu ketika kami bersama Nabi ﷺ dalam sebuah perjalanan, ketika kami sedang bersama beliau, tiba-tiba ada seorang arab badui memanggil beliau dengan suara yang keras sekali, ia berkata, "Wahai Muhammad!" Maka Rasulullah ﷺ menjawabnya dengan suara yang sama keras, “Kemarilah!” Lalu aku berkata kepada orang tersebut, "Celaka engkau! Pelankanlah suaramu, sebab engkau sedang berada di hadapan Nabi ﷺ dan engkau dilarang untuk berperilaku seperti itu." Orang itu berkata, "Demi Allah, aku tidak akan memelankan suaraku." Badui itu berkata, “Ada orang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia tidak dapat menyamai (derajat kemuliaan) mereka?” Nabi ﷺ menjawab, “Seseorang itu akan bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat.” Zirr berkata, "Ṣafwān tidak henti-hentinya memberitahukan banyak hal kepada kami, hingga ia menyebutkan bahwa di arah barat kelak, ada sebuah pintu yang lebarnya sama dengan jarak perjalanan seorang pengendara selama empat puluh atau tujuh puluh tahun."
Hikmah & Pelajaran
1- Keutamaan mencari ilmu dan mulianya kedudukan penuntut ilmu, sampai para malaikat pun menaungi mereka.
2- Penjelasan semangat para tabi'in dalam menuntut ilmu kepada para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-.
3- Boleh mengusap khuf. Masa berlakunya: bagi musafir tiga hari tiga malam, sedangkan bagi yang mukim sehari semalam.
4- Mengusap khuf hanya terkait hadas kecil saja.
5- Penanya boleh meminta penjelasan kepada sang alim mengenai dalil yang disampaikan, apakah itu nas atau ijtihad, dan bagi sang alim tidak perlu merasa terusik dengan hal tersebut.
6- Beretika terhadap ulama dan orang-orang saleh, serta merendahkan suara di majelis ilmu.
7- Mengajarkan orang yang jahil mengenai adab yang baik dan kaidah dalam tata krama.
8- Motivasi untuk meneladan Nabi ﷺ dalam hal kesabarannya, kemuliaan akhlaknya, serta berbicara kepada manusia disesuaikan dengan tingkat keilmuan dan pemahaman mereka.
9- Al-Mubārakfuri berkata, "Nabi ﷺ mengangkat suara kepada laki-laki tersebut adalah karena rasa kasihan beliau kepadanya, yaitu agar amalnya tidak batal berdasarkan firman Allah Ta'ala (artinya): "Janganlah kamu meninggikan suaramu lebih tinggi (daripada) suara Nabi." Beliau memakluminya karena ketidaktahuannya. Tindakan Nabi ﷺ yang mengangkat suara, hingga terdengar setara atau lebih keras darinya adalah karena sangat kasihannya beliau kepadanya."
10- Semangat untuk duduk satu majelis dengan orang-orang saleh, dekat dengan mereka, dan mencintai mereka.
11- An-Nawawi berkata, "Kebersamaannya dengan orang-orang saleh itu tidak mesti membuat kedudukan dan pahalanya sama persis seperti mereka (orang saleh) dari segala sisi."
12- Membuka pintu harap, memberi kabar gembira ketika ada keselamatan, dan bersikap lembut saat menasihati.
13- Luasnya rahmat Allah ﷻ dan pintu tobat dibuka lebar oleh-Nya.
14- Motivasi agar seseorang bersegera untuk bertobat, muhasabah diri, serta kembali kepada Allah Ta'ala.
2- Penjelasan semangat para tabi'in dalam menuntut ilmu kepada para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-.
3- Boleh mengusap khuf. Masa berlakunya: bagi musafir tiga hari tiga malam, sedangkan bagi yang mukim sehari semalam.
4- Mengusap khuf hanya terkait hadas kecil saja.
5- Penanya boleh meminta penjelasan kepada sang alim mengenai dalil yang disampaikan, apakah itu nas atau ijtihad, dan bagi sang alim tidak perlu merasa terusik dengan hal tersebut.
6- Beretika terhadap ulama dan orang-orang saleh, serta merendahkan suara di majelis ilmu.
7- Mengajarkan orang yang jahil mengenai adab yang baik dan kaidah dalam tata krama.
8- Motivasi untuk meneladan Nabi ﷺ dalam hal kesabarannya, kemuliaan akhlaknya, serta berbicara kepada manusia disesuaikan dengan tingkat keilmuan dan pemahaman mereka.
9- Al-Mubārakfuri berkata, "Nabi ﷺ mengangkat suara kepada laki-laki tersebut adalah karena rasa kasihan beliau kepadanya, yaitu agar amalnya tidak batal berdasarkan firman Allah Ta'ala (artinya): "Janganlah kamu meninggikan suaramu lebih tinggi (daripada) suara Nabi." Beliau memakluminya karena ketidaktahuannya. Tindakan Nabi ﷺ yang mengangkat suara, hingga terdengar setara atau lebih keras darinya adalah karena sangat kasihannya beliau kepadanya."
10- Semangat untuk duduk satu majelis dengan orang-orang saleh, dekat dengan mereka, dan mencintai mereka.
11- An-Nawawi berkata, "Kebersamaannya dengan orang-orang saleh itu tidak mesti membuat kedudukan dan pahalanya sama persis seperti mereka (orang saleh) dari segala sisi."
12- Membuka pintu harap, memberi kabar gembira ketika ada keselamatan, dan bersikap lembut saat menasihati.
13- Luasnya rahmat Allah ﷻ dan pintu tobat dibuka lebar oleh-Nya.
14- Motivasi agar seseorang bersegera untuk bertobat, muhasabah diri, serta kembali kepada Allah Ta'ala.