Ensiklopedia Hadis
Detail Hadis
Teks Arab, terjemahan, dan hikmah pelajaran
ID: 4303 | Sahih dengan semua jalannya
HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ، فَأَصْبَحْتُ يَوْمًا قَرِيبًا مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ، قَالَ: «لَقَدْ سَأَلْتَنِي عَنْ عَظِيمٍ، وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، تَعْبُدُ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ البَيْتَ» ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الخَيْرِ: الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ» قَالَ: ثُمَّ تَلاَ: «{تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ}، حَتَّى بَلَغَ {يَعْمَلُونَ}» ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ كُلِّهِ وَعَمُودِهِ، وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟» قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ» ثُمَّ قَالَ: «أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟» قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ: «كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا» فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ».
Terjemahan:
Mu'āż bin Jabal -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Aku pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan. Suatu hari saat kami berjalan, aku mendekat dari beliau. Lantas aku berkata, "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka." Beliau bersabda, "Sungguh, engkau telah menanyakan perkara besar. Tetapi, hal itu akan mudah bagi orang yang dimudahkan Allah Ta'ala untuk melakukannya. Amalan itu adalah engkau beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, menegakkan salat, membayar zakat, berpuasa Ramadan, dan berhaji ke Baitullah."
Beliau melanjutkan, "Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah merupakan penghapus dosa sebagaimana air memadamkan api, dan salatnya seseorang di tengah malam." Lalu beliau membaca (firman Allah), "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya ... hingga firman-Nya, "...apa yang mereka kerjakan." (QS. As-Sajdah: 16) Lantas beliau bertanya, "Maukah aku beritahukan kepadamu seluruh pokok agama, tiangnya, dan puncaknya?" Aku menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Pokok agama adalah Islam (dua kalimat syahadat), tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad." Selanjutnya beliau bertanya, "Maukah aku beritahukan kepadamu kunci semua perkara ini?" Aku menjawab, "Tentu, wahai Nabi Allah." Lantas beliau memegang lidahnya dan bersabda, "Jagalah ini!" Aku bertanya, "Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita ucapkan?" Beliau menjawab, "Semoga ibumu kehilangan kamu (ungkapan pengingkaran). Bukankah manusia itu tidak akan tersungkur dalam neraka di atas mukanya -atau di atas hidungnya- melainkan karena hasil panen lidah mereka?!"
Hikmah & Pelajaran
1- Keseriusan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- terhadap ilmu. Oleh karena itu, mereka banyak bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hal itu.
2- Dalamnya pemahaman para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- karena mereka mengetahui bahwa amal perbuatan adalah sebab masuk surga.
3- Pertanyaan yang dilontarkan oleh Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- adalah pertanyaan besar karena sebenarnya merupakan rahasia kehidupan dan keberadaan makhluk. Semua manusia ataupun jin yang ada di dunia ini akan berakhir di antara surga atau neraka. Itulah sebabnya pertanyaan ini menjadi besar.
4- Faktor masuk surga ada pada pelaksanaan kelima rukun Islam, yaitu dua kalimat syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.
5- Fondasi agama sekaligus tugas paling penting dan kewajiban paling tinggi adalah menauhidkan Allah dengan beribadah kepada-Nya saja, tanpa menyekutukan-Nya.
6- Luasnya rahmat Allah pada hamba-hamba-Nya, yaitu Allah membukakan bagi mereka pintu-pintu kebaikan agar mereka memperbanyak bekal berupa sebab-sebab pahala dan ampunan dosa.
7- Keutamaan beribadah dengan amalan sunah setelah menunaikan kewajiban.
8- Kedudukan salat dalam Islam seperti kedudukan tiang yang menjadi tumpuan tenda. Islam akan hilang dengan hilangnya salat sebagaimana tenda akan ambruk dengan ambruknya tiangnya.
9- Kewajiban menjaga lisan dari semua yang dapat membahayakan manusia dalam agamanya.
10- Menahan lisan dan mengontrolnya adalah sumber seluruh kebaikan.
2- Dalamnya pemahaman para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- karena mereka mengetahui bahwa amal perbuatan adalah sebab masuk surga.
3- Pertanyaan yang dilontarkan oleh Mu'āż -raḍiyallāhu 'anhu- adalah pertanyaan besar karena sebenarnya merupakan rahasia kehidupan dan keberadaan makhluk. Semua manusia ataupun jin yang ada di dunia ini akan berakhir di antara surga atau neraka. Itulah sebabnya pertanyaan ini menjadi besar.
4- Faktor masuk surga ada pada pelaksanaan kelima rukun Islam, yaitu dua kalimat syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji.
5- Fondasi agama sekaligus tugas paling penting dan kewajiban paling tinggi adalah menauhidkan Allah dengan beribadah kepada-Nya saja, tanpa menyekutukan-Nya.
6- Luasnya rahmat Allah pada hamba-hamba-Nya, yaitu Allah membukakan bagi mereka pintu-pintu kebaikan agar mereka memperbanyak bekal berupa sebab-sebab pahala dan ampunan dosa.
7- Keutamaan beribadah dengan amalan sunah setelah menunaikan kewajiban.
8- Kedudukan salat dalam Islam seperti kedudukan tiang yang menjadi tumpuan tenda. Islam akan hilang dengan hilangnya salat sebagaimana tenda akan ambruk dengan ambruknya tiangnya.
9- Kewajiban menjaga lisan dari semua yang dapat membahayakan manusia dalam agamanya.
10- Menahan lisan dan mengontrolnya adalah sumber seluruh kebaikan.