Ensiklopedia Hadis
Detail Hadis
Teks Arab, terjemahan, dan hikmah pelajaran
ID: 3293 | Sahih
HR. Bukhari
عن جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ، يَقُولُ: «إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ لِيَقُلِ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي، وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي» أَوْ قَالَ: «عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ، فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي» أَوْ قَالَ: «فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ، فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي» قَالَ: «وَيُسَمِّي حَاجَتَه».
Terjemahan:
Jābir bin Abdullah -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ mengajari kami istikharah dalam semua urusan sebagaimana beliau mengajari kami surah Al-Qur`an. Beliau bersabda, "Apabila salah seorang kalian menginginkan suatu urusan, hendaklah ia salat dua rakaat di luar salat wajib, kemudian membaca doa: Allāhumma innī astakhīruka bi 'ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as`aluka min faḍlikal-'aẓīm, fa innaka taqdiru wa lā aqdiru, wa ta'lamu wa lā a'lamu, wa anta 'allāmul-guyūb. Allāhumma in kunta ta'lam anna hāżal-amra khairun lī fī dīnī wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī (Ya Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan luasnya ilmu-Mu supaya diberikan pilihan yang terbaik. Aku memohon kepada-Mu dengan besarnya kekuasaan-Mu agar diberikan kemampuan. Aku memohon kepada-Mu sebagian dari karunia-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedang aku tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha mengetahui yang gaib. Ya Allah! Jika Engkau mengetahui perkara ini lebih baik bagiku dalam agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku) .. Atau beliau mengatakan: 'ājili amrī wa ājilihi (dalam urusanku sekarang maupun yang akan datang), fa-qdurhu lī, wa yassirhu lī, ṡumma bārik lī fīhi, wa in kunta ta'lam anna hāżal-amra syarrun lī fī dīnī wa ma'āsyī wa 'āqibati amrī (maka tetapkanlah ia untukku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah ia untukku. Jika Engkau mengetahui perkara ini buruk bagi agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku) .. Atau beliau mengatakan: 'ājili amrī wa ājilihi (dalam urusanku sekarang maupun yang akan datang), fa-ṣrifhu 'annī, wa-ṣrifnī 'anhu, wa-qdur liyal-khaira haiṡu kāna, ṡumma raḍḍinī bihī (maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan tetapkanlah untukku yang lebih baik di mana pun berada, kemudian buatlah aku rida kepadanya)." Perawi berkata, "Hendaklah dia menyebutkan kebutuhannya."
Hikmah & Pelajaran
1- Tingginya perhatian Nabi ﷺ untuk mengajarkan salat istikharah kepada sahabat-sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhum- karena di dalamnya terkandung manfaat dan kebaikan yang besar.
2- Anjuran melakukan salat istikharah dan berdoa dengan doa yang diajarkan setelahnya.
3- Istikharah dianjurkan pada perkara mubah yang ada keraguan di dalamnya, tidak pada perkara wajib ataupun sunah karena hukum asal keduanya dikerjakan. Tetapi, istikharah dapat dilakukan dalam urusan yang berkaitan dengannya seperti memilih rombongan dalam umrah dan haji.
4- Perkara wajib dan sunah tidak diistikharahkan mengerjakannya, demikian juga yang haram dan makruh tidak diistikharahkan dalam meninggalkannya.
5- Doa diakhirkan setelah salat, berdasarkan sabda beliau ﷺ: "Kemudian hendaklah membaca". Tetapi, jika ia dibaca sebelum salam maka tidak mengapa.
6- Hamba wajib mengembalikan seluruh urusannya kepada Allah dan berlepas dari upaya dan kekuatannya sendiri, karena ia tidak memiliki upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
2- Anjuran melakukan salat istikharah dan berdoa dengan doa yang diajarkan setelahnya.
3- Istikharah dianjurkan pada perkara mubah yang ada keraguan di dalamnya, tidak pada perkara wajib ataupun sunah karena hukum asal keduanya dikerjakan. Tetapi, istikharah dapat dilakukan dalam urusan yang berkaitan dengannya seperti memilih rombongan dalam umrah dan haji.
4- Perkara wajib dan sunah tidak diistikharahkan mengerjakannya, demikian juga yang haram dan makruh tidak diistikharahkan dalam meninggalkannya.
5- Doa diakhirkan setelah salat, berdasarkan sabda beliau ﷺ: "Kemudian hendaklah membaca". Tetapi, jika ia dibaca sebelum salam maka tidak mengapa.
6- Hamba wajib mengembalikan seluruh urusannya kepada Allah dan berlepas dari upaya dan kekuatannya sendiri, karena ia tidak memiliki upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.