Ensiklopedia Hadis
Detail Hadis
Teks Arab, terjemahan, dan hikmah pelajaran
ID: 10094 | Sahih
HR. Muslim
عَن أبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: كُنَّا قُعُودًا حَوْلَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مَعَنَا أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ فِي نَفَرٍ، فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِنَا، فَأَبْطَأَ عَلَيْنَا، وَخَشِينَا أَنْ يُقْتَطَعَ دُونَنَا، وَفَزِعْنَا، فَقُمْنَا، فَكُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَزِعَ، فَخَرَجْتُ أَبْتَغِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَتَيْتُ حَائِطًا لِلْأَنْصَارِ لِبَنِي النَّجَّارِ، فَدُرْتُ بِهِ هَلْ أَجِدُ لَهُ بَابًا؟ فَلَمْ أَجِدْ، فَإِذَا رَبِيعٌ يَدْخُلُ فِي جَوْفِ حَائِطٍ مِنْ بِئْرٍ خَارِجَةٍ - وَالرَّبِيعُ الْجَدْوَلُ - فَاحْتَفَزْتُ، فَدَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَبُو هُرَيْرَةَ» فَقُلْتُ: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «مَا شَأْنُكَ؟» قُلْتُ: كُنْتَ بَيْنَ أَظْهُرِنَا، فَقُمْتَ فَأَبْطَأْتَ عَلَيْنَا، فَخَشِينَا أَنْ تُقْتَطَعَ دُونَنَا، فَفَزِعْنَا، فَكُنْتُ أَوَّلَ مَنْ فَزِعَ، فَأَتَيْتُ هَذَا الْحَائِطَ، فَاحْتَفَزْتُ كَمَا يَحْتَفِزُ الثَّعْلَبُ، وَهَؤُلَاءِ النَّاسُ وَرَائِي، فَقَالَ: «يَا أَبَا هُرَيْرَةَ» وَأَعْطَانِي نَعْلَيْهِ، قَالَ: «اذْهَبْ بِنَعْلَيَّ هَاتَيْنِ، فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ، فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ»، فَكَانَ أَوَّلَ مَنْ لَقِيتُ عُمَرُ، فَقَالَ: مَا هَاتَانِ النَّعْلَانِ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ فَقُلْتُ: هَاتَانِ نَعْلَا رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، بَعَثَنِي بِهِمَا مَنْ لَقِيتُ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ، بَشَّرْتُهُ بِالْجَنَّةِ، فَضَرَبَ عُمَرُ بِيَدِهِ بَيْنَ ثَدْيَيَّ فَخَرَرْتُ لِاسْتِي، فَقَالَ: ارْجِعْ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، فَرَجَعْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَجْهَشْتُ بُكَاءً، وَرَكِبَنِي عُمَرُ، فَإِذَا هُوَ عَلَى أَثَرِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا لَكَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟» قُلْتُ: لَقِيتُ عُمَرَ، فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِي بَعَثْتَنِي بِهِ، فَضَرَبَ بَيْنَ ثَدْيَيَّ ضَرْبَةً خَرَرْتُ لِاسْتِي، قَالَ: ارْجِعْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا عُمَرُ، مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا فَعَلْتَ؟» قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ، وَأُمِّي، أَبَعَثْتَ أَبَا هُرَيْرَةَ بِنَعْلَيْكَ، مَنْ لَقِيَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ بَشَّرَهُ بِالْجَنَّةِ؟ قَالَ: «نَعَمْ»، قَالَ: فَلَا تَفْعَلْ، فَإِنِّي أَخْشَى أَنْ يَتَّكِلَ النَّاسُ عَلَيْهَا، فَخَلِّهِمْ يَعْمَلُونَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَخَلِّهِمْ».
Terjemahan:
Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, Kami pernah duduk di sekeliling Rasulullah ﷺ. Bersama kami ada Abu Bakar, Umar, dan sejumlah sahabat lainnya. Lalu Rasulullah ﷺ berdiri dan pergi dari tengah-tengah kami kemudian lama tidak kembali. Kami pun khawatir ada sesuatu yang menimpa beliau, sehingga kami merasa cemas lalu bangkit mencari beliau. Aku adalah orang yang pertama merasakan kecemasan itu. Aku segera keluar mencari Rasulullah ﷺ, sampai aku mendatangi salah satu kebun milik kaum Ansar dari Bani an-Najjār. Aku mengelilingi kebun itu, barangkali aku menemukan pintunya, namun aku tidak menemukannya. Ternyata ada selokan sempit -saluran air yang kecil- yang masuk ke dalam kebun dari sumur di luarnya. Aku berusaha menyelinap masuk dan menemui Rasulullah ﷺ. Beliau berkata, "Abu Hurairah?" Aku menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bertanya, "Ada apa denganmu?" Aku menjawab, "Engkau tadi ada di tengah-tengah kami, kemudian engkau pergi meninggalkan kami dan lama tidak kunjung kembali. Kami khawatir engkau ditimpa sesuatu, sehingga kami merasa cemas, dan aku adalah orang pertama yang merasakannya. Oleh karena itulah, aku mendatangi kebun ini lalu berusaha menyelinap masuk seperti serigala, sedangkan orang-orang itu ada di belakangku." Beliau berkata, "Wahai Abu Hurairah!" Beliau memberikan kedua sandalnya lalu bersabda, "Bawalah kedua sandalku ini! Siapa saja yang engkau jumpai di balik kebun ini, yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dengan yakin sepenuh hati, maka berilah ia kabar gembira berupa surga." Ternyata orang pertama yang aku jumpai adalah Umar, maka ia bertanya, "Ada apa dengan kedua sandal itu, wahai Abu Hurairah?" Aku menjawab, "Ini adalah dua sandal Rasulullah ﷺ. Beliau menyuruhku untuk membawanya; siapa yang aku jumpai, yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dengan yakin sepenuh hati, maka aku akan memberinya kabar gembira berupa surga." Umar memukulkan tangannya pada kedua dadaku sampai aku jatuh terduduk ke belakang." Umar berkata, "Kembalilah, wahai Abu Hurairah." Aku pun kembali kepada Rasulullah ﷺ dengan wajah siap menangis sedang Umar mengikutiku di belakang. Rasulullah ﷺ bersabda, "Apa yang menimpamu, wahai Abu Hurairah?" Aku berkata, "Aku bertemu Umar, lalu aku mengabarinya dengan pesan yang engkau tugaskan kepadaku untuk menyampaikannya, tetapi ia memukul di antara kedua dadaku dengan pukulan yang membuatku jatuh duduk ke belakang dan mengatakan: Kembalilah." Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Umar, apa yang membuatmu melakukan perbuatanmu itu?" Umar berkata, "Wahai Rasulullah! Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Apakah engkau telah mengutus Abu Hurairah membawa kedua sandalmu, siapa yang dijumpainya yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah dengan yakin sepenuh hati, maka ia memberinya kabar gembira berupa surga?" Beliau menjawab, "Ya." Dia berkata, "Janganlah engkau lakukan. Aku khawatir manusia akan bersandar pada hal itu. Biarkan mereka beramal." Rasulullah ﷺ bersabda, "Ya, biarkan mereka beramal."
Hikmah & Pelajaran
1- Tingginya kecintaan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- kepada Rasulullah ﷺ serta kegigihan mereka menjaga keselamatan beliau dari setiap keburukan.
2- Anjuran memberi kabar baik yang menggembirakan.
3- Iman terdiri dari perkataan, perbuatan dan keyakinan.
4- Al-Qāḍī 'Iyāḍ dan lainnya berkata, "Perbuatan Umar -raḍiyallāhu 'anhu- dan permintaan klarifikasinya kepada Nabi ﷺ bukanlah bentuk penolakan dan perlawanan terhadap perintah beliau, karena pesan yang beliau tugaskan kepada Abu Hurairah tidak lebih dari menyenangkan hati umat Islam dan penyampaian kabar gembira kepada mereka. Sedangkan Umar -raḍiyallāhu 'anhu- memandang bahwa menyembunyikan hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat agar mereka tidak berpangku tangan. Pun hal itu lebih mendatangkan kebaikan pada mereka daripada kabar gembira yang disegerakan. Ketika hal itu dia paparkan kepada Nabi ﷺ, beliau membenarkannya."
5- An-Nawawiy berkata, "Di dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seorang pemimpin dan tokoh secara umum, jika ia memiliki pandangan tertentu lalu sebagian pengikutnya memandang yang lain, maka pihak pengikut harus menyampaikannya kepada orang yang diikuti untuk kemudian dia menelaahnya. Apabila tampak baginya pandangan si pengikut yang benar, dia beralih kepadanya. Jika tidak, dia jelaskan kepada si pengikut jawaban terhadap syubhat yang disuguhkan kepadanya."
6- Boleh tidak menyampaikan sebagian ilmu yang tidak dibutuhkan dengan alasan kemaslahatan atau khawatir adanya keburukan.
7- Berita gembira yang besar bagi pengikut tauhid, yaitu orang yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah secara tulus dari hatinya, maka baginya surga.
8- Kekuatan Umar -raḍiyallāhu 'anhu- serta hikmah dan keluasan fikihnya.
9- An-Nawawiy berkata, "Hadis ini mengandung bolehnya seseorang masuk ke dalam pagar milik orang lain tanpa seizinnya jika ia mengetahui pemiliknya meridai hal tersebut lantaran hubungan kasih sayang antara mereka atau lainnya."
2- Anjuran memberi kabar baik yang menggembirakan.
3- Iman terdiri dari perkataan, perbuatan dan keyakinan.
4- Al-Qāḍī 'Iyāḍ dan lainnya berkata, "Perbuatan Umar -raḍiyallāhu 'anhu- dan permintaan klarifikasinya kepada Nabi ﷺ bukanlah bentuk penolakan dan perlawanan terhadap perintah beliau, karena pesan yang beliau tugaskan kepada Abu Hurairah tidak lebih dari menyenangkan hati umat Islam dan penyampaian kabar gembira kepada mereka. Sedangkan Umar -raḍiyallāhu 'anhu- memandang bahwa menyembunyikan hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat agar mereka tidak berpangku tangan. Pun hal itu lebih mendatangkan kebaikan pada mereka daripada kabar gembira yang disegerakan. Ketika hal itu dia paparkan kepada Nabi ﷺ, beliau membenarkannya."
5- An-Nawawiy berkata, "Di dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa seorang pemimpin dan tokoh secara umum, jika ia memiliki pandangan tertentu lalu sebagian pengikutnya memandang yang lain, maka pihak pengikut harus menyampaikannya kepada orang yang diikuti untuk kemudian dia menelaahnya. Apabila tampak baginya pandangan si pengikut yang benar, dia beralih kepadanya. Jika tidak, dia jelaskan kepada si pengikut jawaban terhadap syubhat yang disuguhkan kepadanya."
6- Boleh tidak menyampaikan sebagian ilmu yang tidak dibutuhkan dengan alasan kemaslahatan atau khawatir adanya keburukan.
7- Berita gembira yang besar bagi pengikut tauhid, yaitu orang yang bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah secara tulus dari hatinya, maka baginya surga.
8- Kekuatan Umar -raḍiyallāhu 'anhu- serta hikmah dan keluasan fikihnya.
9- An-Nawawiy berkata, "Hadis ini mengandung bolehnya seseorang masuk ke dalam pagar milik orang lain tanpa seizinnya jika ia mengetahui pemiliknya meridai hal tersebut lantaran hubungan kasih sayang antara mereka atau lainnya."