Dalam Kalender Pawukon Bali dikenal istilah Wewaran, yang berasal dari kata wara (hari). Wewaran adalah sistem pengelompokan hari atau siklus mingguan. Keunikan Bali terletak pada jumlahnya yang tidak hanya 5 atau 7 hari, melainkan 10 jenis siklus hari, mulai dari 1 hingga 10 hari.

Jenis-Jenis Wewaran

  • Ekawara: Luang
  • Dwiwara: Menga, Pepet
  • Triwara: Pasah, Beteng, Kajeng
  • Caturwara: Sri, Laba, Jaya, Mandala
  • Pancawara: Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon
  • Sadawara: Tungleh, Aryang, Urukung, Paniron, Was, Maulu
  • Saptawara: Radite, Soma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, Saniscara
  • Astawara: Sri, Indra, Guru, Yama, Ludra, Brahma, Kala, Uma
  • Sangawara: Dangu, Jangur, Gigis, Mohan, Ogan, Erangan, Urungan, Tulus, Dadi
  • Dasawara: Pandita, Pati, Suka, Duka, Sri, Manuh, Manusa, Raja, Dewa, Raksasa

Sepuluh siklus ini berjalan bersamaan dan masing-masing memiliki fungsi tertentu dalam penentuan hari baik, upacara, serta aktivitas sosial dan religius.

Kalender Saka Bali

Selain Pawukon, Bali juga mengenal Kalender Saka Bali, yaitu sistem penanggalan yang memadukan tiga unsur sekaligus:

  • Tahun Surya (solar)
  • Tahun Candra (lunar)
  • Tahun Wuku

Kalender ini berakar pada Kalender Saka India yang dimulai tahun 79 Masehi. Dalam perkembangannya, Kalender Saka Bali dipelopori oleh I Gusti Bagus Sugriwa dan I Ketut Bambang Gede Rawi.

Prinsip Dasar Kalender Saka Bali

Unsur Matematis

Kalender Saka Bali menganut sistem luni-solar sehingga memiliki dua jenis tahun:

  • Tahun pendek: 12 bulan
  • Tahun panjang: 13 bulan (dengan bulan sisipan/Malasama)

Dalam satu siklus 19 tahun matahari, terdapat 7 tahun panjang. Umur bulan berkisar antara 29–30 hari.

Penentuan Bulan

  1. Awal bulan: Penanggal (Suklapaksa)
  2. Pertengahan bulan: Purnama
  3. Akhir bulan: Tilem (Kresnapaksa)

Peralihan purnama–tilem tidak bergantung pada observasi hilal, tetapi diatur melalui sistem Wariga dan Wuku yang disebut pangalantaka.

Unsur Sistematis dan Geografis

Kalender Saka Bali disusun secara sistematis dan disesuaikan dengan kondisi geografis Bali yang berada di garis khatulistiwa. Contohnya, perayaan Nyepi selalu jatuh pada bulan Maret setelah Tilem Kesanga, saat matahari berada tepat di atas bumi (Bajeging Surya).

Kalender Pawukon Bali merupakan sistem siklus waktu budaya yang kompleks dan berkesinambungan. Keakuratannya tidak hanya dijaga secara tradisional, tetapi juga dapat dikaji melalui pendekatan astronomi sebagai pembuktian ilmiah.