Dalam tradisi Primbon Jawa, mimpi atau impian tidak selalu dianggap sebagai bunga tidur semata. Beberapa mimpi dipercaya memiliki makna atau pertanda tertentu, tergantung pada hari dan pasaran saat mimpi tersebut dialami. Penafsiran ini termasuk dalam ilmu titen, yaitu ilmu pengamatan yang diwariskan secara turun-temurun.
Berikut penjelasan cara menghitung dan menafsirkan mimpi menurut Primbon Jawa agar lebih mudah dipahami.
Contoh Perhitungan Mimpi
Misalnya seseorang bermimpi pada hari Senin Paing, baik pada siang maupun malam hari. Maka langkah perhitungannya adalah sebagai berikut:
-
Menentukan Neptu Hari dan Pasaran
Neptu hari Senin = 4
Neptu pasaran Paing = 9
Jumlah neptu = 4 + 9 = 13 -
Menentukan Makna Mimpi
Jumlah neptu tersebut kemudian dihitung menggunakan metode yang disebut Sasmitaningroh.- Jika mimpi jatuh pada Sasmitaningroh atau Daradasih, maka mimpi tersebut dipercaya memiliki pertanda dan akan terjadi suatu peristiwa, baik atau buruk.
- Jika jatuh pada Cakrabawa, maka mimpi tersebut dianggap tidak memiliki kejadian atau pengaruh apa pun.
Waktu Terjadinya Peristiwa dari Mimpi
Selain maknanya, Primbon Jawa juga mengenal perhitungan tentang cepat atau lambatnya peristiwa yang berkaitan dengan mimpi. Waktu kejadian ditentukan berdasarkan pembagian berikut:
-
Dina (Hari)
Jika perhitungan jatuh pada Dina, maka peristiwa akan terjadi paling cepat atau paling lambat 7 hari setelah mimpi dialami. -
Sasi (Bulan)
Jika jatuh pada Sasi, maka peristiwa tersebut akan terjadi paling lambat dalam satu bulan setelah mimpi. -
Tahun
Jika jatuh pada Tahun, maka peristiwa akan terjadi dalam rentang waktu paling lama satu tahun. -
Windu
Jika jatuh pada Windu, maka peristiwa akan terjadi dalam waktu paling lama satu windu (sekitar delapan tahun).
Apabila mimpi jatuh pada kategori yang memiliki kejadian, maka peristiwa tersebut diyakini pasti terjadi, meskipun belum dapat dipastikan apakah bersifat baik atau buruk.
Catatan Tambahan
Perhitungan neptu hari dan pasaran dalam penafsiran mimpi ini mengikuti aturan yang sama dengan perhitungan neptu pada pembahasan sebelumnya (sebagaimana dijelaskan dalam perhitungan dasar neptu hari dan pasaran).
Penutup
Perhitungan mimpi dalam Primbon Jawa merupakan bagian dari kearifan lokal yang memaknai mimpi sebagai isyarat atau tanda, bukan kepastian mutlak. Oleh karena itu, penafsiran mimpi sebaiknya dipahami secara bijak sebagai panduan tradisional dan refleksi diri, bukan sebagai penentu utama dalam mengambil keputusan penting.