Menayuh keris adalah laku dalam tradisi Jawa untuk mengetahui kecocokan dan pengaruh batin dari sebuah besi bertuah atau keris terhadap pemiliknya. Proses ini dilakukan dengan tata cara tertentu sebagai bentuk penghormatan dan komunikasi simbolik.

Persiapan Tempat

Buatlah garis silang di atas tanah, yaitu satu garis dari arah utara ke selatan dan satu garis dari arah barat ke timur. Saat membuat garis tersebut, ucapkan mantera: “Yahoa”.

Mengeluarkan Keris

Keris dikeluarkan perlahan dari sarungnya sambil membaca mantera berikut:

“Iman sari sukma mulya, tinampana padha sukma, telek erang araning west, terputih araning waja, mati rasa araning cahya, west pulasant aku njaluk weruh gelem melu aku apa ora.”

Pemberian Kemenyan dan Bunga

Setelah keris dikeluarkan, berikan kemenyan dan bunga sebagai simbol penghormatan. Saat melakukan ini, bacalah mantera:

“West pulasant diaturi dhahar sega putih ganda arum.”

Peletakan Keris

Letakkan keris di atas tanah yang telah diberi garis silang menghadap ke arah utara dan selatan. Tanah di sekitar keris kemudian ditaburi bunga. Biarkan keris berada di posisi tersebut selama beberapa saat.

Penyimpanan Keris

Setelah proses di atas selesai, keris kembali disarungkan dengan hati-hati. Pada malam harinya, keris diletakkan di bawah bantal tempat tidur pemiliknya.

Makna Menayuh Keris

Melalui mimpi atau perasaan batin yang muncul setelah tidur, diyakini akan diperoleh isyarat mengenai kecocokan keris tersebut. Jika mimpi terasa baik dan menenangkan, keris dianggap berjodoh. Sebaliknya, jika mimpi terasa berat atau tidak nyaman, keris tersebut dipercaya kurang sesuai.

Penutup

Menayuh besi bertuah atau keris merupakan bagian dari kearifan lokal Jawa yang sarat makna simbolik. Laku ini menekankan keselarasan batin, rasa hormat, dan kebijaksanaan, bukan sekadar ritual semata.