Primbon ini digunakan untuk mengetahui apakah suatu permintaan atau hajat akan terkabul atau tidak, terutama ketika seseorang hendak bepergian atau memiliki tujuan tertentu. Cara ini dilakukan dengan media sederhana dan disertai doa sebagai bentuk ikhtiar batin.

Perlengkapan dan Persiapan

Ambillah salah satu dari berikut ini: biji sawo kecil, biji asam (klungsu), atau kerikil, sebanyak satu genggam. Media ini digunakan sebagai alat hitung untuk mengetahui hasil permintaan.

Doa yang Dibaca

Sebelum menghitung, bacalah doa patekah satu kali, kemudian Surat Al-Ikhlas (Qulhu) sebanyak tiga kali. Setelah itu, biji atau kerikil yang dibawa mulai dihitung.

Cara Menghitung

Biji sawo, biji asam, atau kerikil dihitung dengan bilangan delapan demi delapan. Setelah itu, perhatikan sisa hitungannya. Sisa inilah yang menjadi penentu hasil permintaan.

Makna Sisa Hitungan

1. Bintang Juhra

Menandakan jalan akan mudah dan permintaan besar kemungkinan dapat terlaksana dengan lancar.

2. Bintang Marih

Permintaan belum dapat terkabul. Dianjurkan untuk bersabar dan tidak tergesa-gesa karena jika dipaksakan dapat membawa kesengsaraan.

3. Bintang Samsu

Pertanda baik. Permintaan dinilai mudah terkabul dan hasilnya membawa kebaikan.

4. Bintang Jukal

Permintaan tidak terkabul dan cenderung menemui kesukaran serta hambatan yang berulang.

5. Bintang Mustari

Permintaan sulit terwujud, namun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh kesabaran, maka keinginan tersebut tetap memiliki peluang untuk terkabul.

6. Bintang Kamar

Jika permintaan berkaitan dengan urusan wanita atau jodoh, maka permintaan tersebut dipercaya akan terkabul.

7. Bintang Ngataris

Menandakan kekuatan dan kemantapan. Permintaan dipercaya akan cepat dan mudah terkabul.

8. Bintang Jukal

Permintaan tidak terkabul dan pelakunya berpotensi terus mengalami kesukaran apabila tetap memaksakan kehendak.

Primbon ini mengajarkan kehati-hatian dan kesabaran dalam berharap. Hasil perhitungan bukanlah penentu mutlak, melainkan sebagai sarana introspeksi diri agar seseorang lebih siap secara batin, tidak tergesa-gesa, dan mampu menerima hasil dengan bijaksana.