Dalam tradisi masyarakat Jawa, mendirikan rumah bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dan filosofis. Salah satu pedoman yang digunakan adalah Primbon Betaljemur Adammakna, yaitu kitab yang memuat berbagai perhitungan dan aturan hidup, termasuk dalam hal arsitektur rumah.
Primbon ini memberikan panduan mengenai bagaimana menentukan struktur rumah yang baik melalui sistem perhitungan tertentu. Tujuannya bukan hanya menciptakan bangunan yang kokoh, tetapi juga menghadirkan keselamatan, kenyamanan, dan kesejahteraan bagi penghuninya.
Konsep Dasar Perhitungan Usuk
Dalam membangun rumah, terdapat sistem perhitungan yang dikenal dengan perhitungan usuk (rangka atap). Sistem ini menggunakan pola hitungan tertentu (misalnya 5x5) yang menghasilkan lima kategori utama:
- Sri → bermakna kemakmuran dan rejeki (baik)
- Kitri → bermakna kesuburan dan pertumbuhan (baik)
- Gana → bermakna kecukupan (cukup baik)
- Liyu → bermakna kelelahan dan penurunan energi (buruk)
- Pokah → bermakna kerentanan atau gangguan (buruk)
Hasil perhitungan ini kemudian digunakan untuk menentukan kualitas dan dampak dari struktur rumah yang akan dibangun.
Hubungan Perhitungan dengan Fungsi Ruang
Menariknya, hasil perhitungan tidak berdiri sendiri, tetapi dikaitkan langsung dengan fungsi ruang dalam rumah:
- Sri → digunakan untuk kerangka rumah bagian belakang (inti keluarga)
- Kitri → digunakan untuk pendopo (ruang penerima tamu)
- Gana → digunakan untuk dapur
- Liyu → digunakan untuk gerbang dan bangsal
- Pokah → digunakan untuk gudang dan lumbung
Dari pembagian ini terlihat bahwa bagian inti rumah dan ruang utama mendapatkan kategori “baik”, sedangkan ruang pelengkap atau penunjang mendapat kategori “kurang baik”.
Makna Filosofis di Balik Perhitungan
Setiap kategori dalam primbon memiliki makna yang lebih dalam:
- Sri → melambangkan rejeki dan kemuliaan. Harapannya, penghuni rumah akan hidup berkecukupan dan sejahtera.
- Kitri → melambangkan tumbuhan atau buah, yang berarti pertumbuhan dan keharmonisan dengan lingkungan.
- Gana → melambangkan wujud atau keberadaan, yang diartikan sebagai kecukupan hidup.
- Liyu → melambangkan kelelahan, yang dikaitkan dengan aktivitas sosial yang menguras energi.
- Pokah → melambangkan tempat penyimpanan yang rentan gangguan, seperti hama di lumbung.
Makna-makna ini menunjukkan bahwa primbon tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga mengandung refleksi pengalaman hidup masyarakat.
Logika Tersembunyi dalam Penataan Rumah
Jika dianalisis lebih dalam, terdapat hubungan logis antara perhitungan dan fungsi ruang:
- Ruang utama (inti keluarga) → diberikan nilai baik (Sri, Kitri)
- Ruang produksi (dapur) → cukup (Gana)
- Ruang sosial (tamu) → melelahkan (Liyu)
- Ruang penyimpanan → berisiko (Pokah)
Dengan demikian, primbon sebenarnya menyampaikan pemahaman praktis tentang kehidupan sehari-hari melalui simbol-simbol.
Perhitungan dalam Primbon Betaljemur Adammakna menunjukkan bahwa arsitektur rumah Jawa tidak hanya mempertimbangkan aspek fisik, tetapi juga makna filosofis dan psikologis.
Melalui sistem Sri, Kitri, Gana, Liyu, dan Pokah, primbon memberikan panduan agar rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga sumber kesejahteraan, keharmonisan, dan keseimbangan hidup.