Dalam tradisi Jawa dan ajaran lama yang berkembang di masyarakat, hubungan suami istri tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan biologis, tetapi juga sebagai bagian dari keharmonisan rumah tangga yang mengandung nilai spiritual dan etika.
Primbon Jawa mengajarkan bahwa hubungan tersebut sebaiknya dilakukan dengan penuh kesadaran, kebersihan, serta disertai doa kepada Tuhan, agar memperoleh keberkahan dan keturunan yang baik.
Sebelum melakukan hubungan, dianjurkan untuk membersihkan diri terlebih dahulu, seperti mandi, memakai pakaian yang bersih, serta menggunakan wewangian. Hal ini tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan dan kedekatan antara pasangan.
Dalam beberapa ajaran tradisional, terdapat tahapan atau tata cara yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan kelembutan dalam memulai hubungan, antara lain:
-
Mengawali dengan salam dan niat baik
Pasangan dianjurkan saling menyapa sebagai bentuk penghormatan dan membuka hubungan dengan niat yang baik. -
Memegang ujung rambut pasangan
Dalam tradisi tertentu, suami memegang ujung rambut istri sebagai simbol kasih sayang, kemudian dilanjutkan dengan sentuhan lembut. -
Memberikan ciuman dengan penuh kasih
Ciuman dilakukan secara lembut, seperti pada kepala, pipi, atau dahi, sebagai bentuk kedekatan emosional dan cinta. -
Merangkul dan mendekatkan diri
Pelukan dan sentuhan dilakukan dengan penuh rasa hormat, tanpa tergesa-gesa, untuk membangun kenyamanan bersama. -
Membaca doa atau dzikir
Sebelum memulai hubungan, dianjurkan membaca doa sebagai bentuk memohon perlindungan kepada Tuhan serta harapan mendapatkan keturunan yang saleh. -
Melakukan dengan penuh kesadaran dan ketenangan
Hubungan dilakukan tanpa tergesa-gesa, dengan menjaga rasa saling menghormati dan kasih sayang. -
Selalu mengingat Tuhan dalam hati
Dalam ajaran ini, pasangan dianjurkan tetap mengingat Tuhan sebagai bentuk menjaga nilai spiritual dalam hubungan.
Selain itu, dalam tradisi Jawa juga dikenal adanya doa atau mantra yang dibaca untuk memohon keberkahan, keharmonisan, serta keturunan yang baik. Mantra ini merupakan bagian dari warisan budaya dan digunakan sebagai bentuk harapan dan keyakinan.
Setelah selesai, dianjurkan untuk kembali membersihkan diri. Dalam tradisi tertentu dikenal istilah tirtamayasandi, yaitu ramuan air dari bahan alami seperti tawas, air bersih, dan tembakau yang direbus, disaring, dan digunakan untuk membersihkan tubuh.
Namun dalam kehidupan modern, kebersihan dapat dilakukan dengan cara yang lebih praktis dan higienis sesuai standar kesehatan.
Pada akhirnya, semua tata cara ini menekankan bahwa hubungan suami istri sebaiknya dilakukan dengan kebersihan, rasa hormat, kelembutan, serta niat yang baik. Dengan demikian, hubungan tersebut tidak hanya mempererat cinta, tetapi juga membawa keberkahan dalam kehidupan rumah tangga.