Dalam kepercayaan Jawa kuno, setiap tahun memiliki watak, pengaruh, dan sedekah tertentu yang dipercaya dapat mempengaruhi hasil pertanian, keselamatan, dan kehidupan manusia. Ilmu ini berasal dari perhitungan kalender Jawa yang digunakan sejak masa Sultan Agung dan diwariskan dalam berbagai kitab primbon serta tradisi lisan di masyarakat Jawa.
Pengetahuan tentang watak tahun dan sedekahnya biasanya dipakai oleh orang tua dahulu, terutama petani, untuk menentukan waktu menanam, melakukan selamatan, dan menghindari bala. Ilmu ini masih dikenal di lingkungan tradisi Jawa seperti di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta.
Siklus Tahun Jawa dalam Satu Windu
Dalam kalender Jawa, setiap 8 tahun disebut satu windu.
Nama tahun dalam satu windu adalah:
| No | Nama Tahun |
|---|---|
| 1 | Alip |
| 2 | Ehe / Ha |
| 3 | Jimawal |
| 4 | Je / Za |
| 5 | Dal |
| 6 | Be / Ba |
| 7 | Wawu |
| 8 | Jimakir |
Setelah Jimakir kembali lagi ke Alip. Setiap tahun dipercaya memiliki watak berbeda.
Cara Mengetahui Tahun Jawa
Menurut primbon, nama tahun Jawa ditentukan dari hari dan pasaran pada tanggal 1 Muharram.
| Nama Tahun | Jika 1 Muharram jatuh pada |
|---|---|
| Alip | Selasa Pon |
| Ehe | Sabtu Pahing |
| Jimawal | Kamis Pahing |
| Je | Senin Legi |
| Dal | Jumat Kliwon |
| Be | Rabu Kliwon |
| Wawu | Minggu Legi |
| Jimakir | Kamis Pon |
Perhitungan ini digunakan dalam kalender Jawa lama.
Nama Windu dalam Kalender Jawa
Dalam primbon juga dikenal siklus windu besar yang berulang setiap 32 tahun.
| Nama Windu |
|---|
| Adi |
| Kuntara |
| Sangara |
| Sancaya |
Contoh siklus:
| Windu | Mulai Tahun |
|---|---|
| Adi | 1997 – 2029 |
| Kuntara | 2005 – 2037 |
| Sangara | 2013 – 2045 |
| Sancaya | 2021 – 2054 |
Pembagian windu ini dikenal dalam primbon dan ilmu titen.
Watak Tahun dan Sedekahnya Menurut Primbon
Bagian ini yang paling penting dalam primbon, yaitu watak tahun dan sedekahnya. Ilmu ini dipakai agar tanaman subur dan terhindar dari hama.
Tahun Alip
- Watak: awal, banyak gangguan
- Mulai tanam: hari Jumat
- Sedekah: nasi tanak pecel
- Doa: arwah
- Hama: bambang
- Penangkal: jeruk ditanam di pematang sawah
Tahun Ehe
- Watak: banyak penyakit tanaman
- Mulai tanam: hari Rabu
- Sedekah: nasi + telur + sambal jahe
- Doa: akasah
- Hama: sundep
- Penangkal: kotoran kuda di pematang
Tahun Jimawal
- Watak: banyak burung pengganggu
- Mulai tanam: hari Jumat
- Sedekah: nasi + telur dadar
- Doa: selamat
- Hama: burung
- Penangkal: daun kadalan di pematang
Tahun Je
- Watak: banyak binatang liar
- Mulai tanam: hari Jumat
- Sedekah: nasi + ayam pecel
- Hama: celeng / babi hutan
- Penangkal: sekul bujeng dibakar
"Magunung geni segara wedang, singa mara singa mati lebur luluh ujare seri rajah iman"
Tahun Dal
- Watak: banyak penyakit padi
- Mulai tanam: hari Rabu
- Sedekah: nasi + ikan
- Doa: tolak bala
- Hama: lodoh
- Penangkal: bubuk ditanam di pematang
Tahun Be
- Watak: banyak belalang
- Mulai tanam: hari Rabu
- Sedekah: nasi + sayur + ikan
- Doa: qunut
- Hama: belalang
- Penangkal: minyak di pematang
Tahun Wawu
- Watak: hasil tidak merata
- Mulai tanam: hari Kamis
- Sedekah: makanan pasar
- Penangkal: jenang ditanam di pematang
Tahun Jimakir
- Watak: tanah lemah
- Mulai tanam: hari Jumat
- Sedekah: nasi puli
- Doa: arwah
- Hama: tanah rusak
- Penangkal: jeruk ditanam
Watak tahun dan sedekahnya adalah bagian dari primbon Jawa yang digunakan untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan waktu. Walaupun tidak semua aturan tertulis dalam satu kitab, ilmu ini diwariskan turun temurun dan masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa hingga sekarang. Dalam falsafah Jawa: Wong sing ngerti wektu, bakal slamet uripe.