Masa Kerajaan Majapahit dan Penyusunan Kitab-Kitab Primbon
Pada masa Kerajaan Majapahit, ilmu perhitungan hari semakin berkembang karena digunakan dalam pemerintahan, pertanian, dan upacara kerajaan. Para empu dan pujangga mulai menuliskan berbagai pengetahuan dalam bentuk kitab, termasuk:
- Perhitungan hari baik
- Watak kelahiran
- Ramalan mimpi
- Tanda alam
- Petunjuk kehidupan
Walaupun banyak naskah asli tidak lagi ditemukan, para ahli percaya bahwa sebagian besar primbon Jawa berasal dari tradisi yang berkembang pada masa Majapahit. Pada masa ini juga terjadi perpaduan antara:
- Kepercayaan asli Jawa
- Hindu
- Buddha
- Astrologi India
yang kemudian menjadi dasar primbon Jawa.
Masa Islam dan Perubahan Sistem Kalender Jawa
Ketika Islam masuk ke Jawa sekitar abad ke-15, tradisi primbon tidak hilang, tetapi mengalami penyesuaian. Para ulama dan wali tidak menghapus budaya lama, melainkan menggabungkannya dengan ajaran Islam.
Perubahan besar terjadi pada masa Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada abad ke-17. Sultan Agung membuat kalender Jawa baru yang menggabungkan:
- Kalender Saka (Hindu)
- Kalender Hijriyah (Islam)
- Tradisi Jawa
Kalender ini digunakan sampai sekarang dan menjadi dasar perhitungan primbon, termasuk:
- Weton
- Pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon)
- Neptu
- Hari baik dan buruk
Sejak saat itu, primbon Jawa memiliki unsur Islam seperti:
- Doa-doa
- Nama nabi
- Ayat Al-Qur’an
- Istilah Arab
Namun sistem perhitungan hari tetap dipertahankan.